Tulisan ini di tulis oleh : Bapak Edi Siswadi (Sekda Kota Bandung)
Yesterday at 5:34pm
Kita sudah dapat memastikan bahwa, akan ada tiga pasangan capres dan cawapres yang akan bersaing dan siap berlaga dalam pemilihan Presiden 8 juli yang akan datang.Kepastian itu datang ketika tiga pasang capres dan cawapres tersebut, secara administratif telah selesai mendaftarkan ke KPU,yaitu pertama pasangan SBY-Boediono dengan slogan SBY-Berbudi,kedua Megawati-Prabowo dengan slogan Mega-Pro dan ketiga Jusuf Kalla-Wiranto dengan slogan JK-Win.
Ketiga Capres dan cawapres,semuanya muka-muka lama dalam pemerintahan dan bukanlah orang-orang yang baru dalam struktur pemerintahan,kecuali Prabowo yang memangku jabatan terakhir sebagai Pangkostrad, belum pernah duduk di jajaran eksekutif-pemerintahan.SBY adalah Preisden(incumbent),Mega mantan Presiden dan Kalla adalah wapres.Sedangkan Boediono yang terakhir menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia(BI),adalah mantan menteri keuangan pada masa pemerintahan Megawati.
Berbagai prediksi sekaligus spekulasi tentang peluang para calon presiden RI 2009-2014,kini bermunculan diberbagai media, baik media masa maupun elektronika.Prediksi itu, pada umumnya didasarkan atas sejumlah data dan indikator seperti misalnya hasil raihan suara pemilu legislatif tanggal 9 April,tingkat elektabilitas calon dan peta kekuatan dukungan yang pada umumnya merepresentasikan kekuatan kultur(jawa-luar jawa),politik aliran yang pada umunya menggambarkan kekuatan dukungan kelompok agama dan religius serta dukungan kelompok nasionalis-kebangsaan.Apabila ukurannya didasarkan pada penelitan R William Liddle dan Saeful Mujani(1999), yang menyatakan bahwa,budaya politik yang menjadi alasan voter memilih parpol antara lain ditentukan oleh faktor;1.Keyakinan keagamaan dan afiliasi politik,2.Etnik dan loyalitas kedaerahan,3.Kelas sosial/kepentingan ekonomi,4.Pertemanan dengan pemimpin partai nasional,5.Kepatuhan pada petuah pemimpin lokal atau patron,6.Retrospeksi evaluasi tampilan atau concern parpol,dan 7.Partisan parpol.
Kemenangan Matematis
Kita bisa melihat peta kukuatan ketiga pasangan itu dari hasil pemilu legislatif yaitu;pertama SBY-Berbudi dengan partai pendukung sebanyak 23 partai,meraih total suara 60.614.515(58,23%) dan total kursi DPR 314(56,07%), kedua;Mega Pro dengan partai pendukung 9 meraih total suara 21.015.966(20,19%) dan total kursi DPR 121(21,61%),ketiga;JK-Win didukung oleh 3 partai dengan total suara 20.488.220(19,69%) dan total kursi DPR 125(22,32%).Apabila asumsi kekuatan dukungan tidak mengalami perubahan hingga Pilpres nanti,tentu SBY Berbudi secara matematis akan meraih kemengana dengan mudah dan hanya perlu satu putaran saja, guna memenangkan pemelihan presiden 2009-2014.
Persoalannya adalah, politik itu dinamis dan perubahannya pun bergerak dengan cepat, bahkan hitungannya bisa dalam ukuran detik. Meminjam istilah SBY, bahwa dalam politik segala sesuatu bisa saja terjadi-“everything can happen”. Dengan demikian, SBY Berbudi belum tentu menang secara telak, dan Mega-Pro juga JK-Win kalah dengan mudah.Apalagi adanya kontroversi pemilihan Boediono sebagai pasangan SBY,telah menimbulakan ketidakpuasan partai pendukung juga kelompok nasionalis yang populis, menentang piliahan SBY tersebubut,karena menganggap Boediono sebagai representasi ideologi neoliberal dan kepentingan asing.Kontroversi ini, apabila menjadi bola salju yang terus menggelinding, dan tidak hanya menjadi wacana elit, tapi lantas kemudian ditangapi pula oleh “grass-root”, sehingga pada gilirannya menjadi sinyal terjadinya penolakan masyarakat,tentu akan menyulitkan posisi SBY, bahkan bisa men-“down-grade” tingkat elektabilitas SBY dengan angka yang cukup signifikan.Tapi menurut hemat saya,gerakan penolakan ini hanya terjadi dikalangan elit saja dan tidak menggambarkan penolakan masyarakat secara umum.
Apa yang terjadi dalam pemilihan legislatif,ternyata tidak akan hampir secara otomatis terjadi pula dalam pemilihan presiden nanti,artinya kemenangan partai Demokrat dari Golkar dan PDI-P,tidak bisa dijadikan ukuran menjadi kemengan SBY terhadap JK dan Mega.Apalagi dalam pilpres nanti diperkirakan akan terjadi penambahan sekitar 15-20% Daftar Pemilih Tetap(DPT) yang berasal dari hasil pemutakhiran data yang dilakukan KPU.Angka ini bisa saja bertambah ketika KPU berhasil mereduksi angka suara yang tidak sah dari 10,21 % menjadi hanya 5 % dengan melakukan sosialisasi yang masif kepada seluruh warga, juga bisa menekan angka golput dari 29 % menjadi maksimal hanya 20%.
Dari kalkulasi angka di atas, masih akan ada suara mengambang (swing-voters)dan belum menentukan pilihan politiknya sebesar 50,7 jutaan lagi ditambah dengan perkiraan sebanyak 60% dari 104.099.785 juta suara sah, yang pada umumnya masih pikir-pikir untuk menjatuhkan pilihan politiknya dalam pilpres nanti,karena memang “strong supporters” itu, biasanya hanya berkisar 30-40% saja, artinya apabila hari ini terjadi pemilihan presiden, ia akan melakukan pilihannya dan tidak akan berubah bila pelaksanaanya dilakukan bulan depan atau bahkan tahun depannya sekali pun.Dari angka ini, secra matematis masih ada sekitar 100 juta an lebih suara rakyat yang masih belum menetukan sikap politiknya, atau masih pikir-pikir dan baru menentukan pilihan politiknya di 5 menit terakhir.Dengan demikian, semua calon presiden masih berpeluang menang dan bisa saja kalah,bahkan SBY sekalipun, yang memiliki tingkat elektabilitas tertinggi diatara calon presiden,juga bisa saja kalah, apabila ia dan tim kampanyenya lengah dan telah merasa memenagkan Pilpres, karena memang suara Partai Demokrat dalam pemilu legislatif yang baru lalu meraih suara terbanyak.
Artinya, setiap calon masih berpeluang untuk meraih tambahan suara dan merubah peta dukungan yang cukup signifikan.Perubahan peta dukungan ini, akan sangat tergantung kemampuan tim Kampanye masing-masing capres untuk membangun “building-image” yang masif serta meng“up-grade” dukungan publik.Tentu dana pun sangat berpengaruh dalam memenangkan persaingan ini, semakin banyak dana, semakin leluasa melakukan kampanye dari mulai kampanye “door to door” hingga kampanye terbuka,dan biaya iklan politik serta dukungan operasional tim sukses dan para saksi. Dalam prakteknya, seringkali para kandidat ini menggunakan tim kampanye yang tidak terstruktur(tim siluman)yang sulit diditeksi oleh panwaslu ketika terjadi sejumlah pelanggaran.
Dalam tim siluman, yang bekerja secara undercover ini,justru bisa menghimpun dana dalam jumlah yang sangat besar, melakukan kampanye hitam,mencuri start kampanye, bahkan bisa melakukan serangan fajar. Apabila ini dikemas secara canggih oleh apara kandidat, boleh jadi yang akan menang itu, adalah yang melakukan secara cepat dan diterima langsung olah masyarakat,itu yang berpeluang jadi presiden nanti.
Jika parameternya politik matematis dan kinerja pemerintahan yang dibangun oleh SBY selama ini,memang peluang SBY masih lebih kuat dibanding Megawati dan Jusuf kalla.Kalaupun SBY harus “head to head” dengan masing-masing tokoh ini,peluang untuk menang menjadi lebih besar lagi.Peluang SBY lebih besar bukan karena dia “looks presidential”,tapi juga pemerintahannya sekarang, tidak terlalu dinilai jelek.Walaupun belum setinggi yang diharapkan,ekonomi sekarang tumbuh lebih baik dari sebelumnya.Kondisi politik dan keamanan jauh lebih stabil seta kinerja pemerintahan SBY belum serendah yang diharapkan lawan politiknya.Jadi ruang tembak untuk mengatakan SBY gagal membangun pemerintahan yang efektif sangat mudah untuk dipatahkan.
Loyalitas Kedaerahan.
Namun jika parameter etnik dan loyalitas kedaerahan, juga keterwakilan kekuatan politik aliran, serta kekuatan sipil dan militer,dan dukungan dana yang kuat, maka janganlah memandang enteng JK-Wiranto demikian juga Mega-Pro.JK-Win yang memenuhi unsur-unsur di atas,terutama perimbangan kekuatan jawa-luar jawa,suatu realitas politik yang juga harus menjadi pertimbangan basis kekuatan yang cukup signifikan.Mega-Pro,masih memenuhi unsur jawa dan luar jawa dengan kadar campuran,megawati mewarisi daerah campuran jawa-sumatra,dan Prabowo adalah peranakan Jawa-Sulawesi utara.Sedangkan SBY berbudi,keduanya murni jawa,dan lebih sempit lagi jawa timur,SBY Pacitan dan Boediono Blitar,apakah politik pencitraan ini, bisa meyakinkan basis kekuatan politik yang berorientasi etnik dan loyalitas kedaerahan?apalagi kepatuhan kepada petuah pemimpin lokal atau patron dalam peta perpolitikan kita masih cukup kuat.Memang kita tidak boleh mempraktekan politik primordialisme yang terlalu tajam, tapi sentimen etnik itu adalah realitas dan keniscayaan politik kita.
Akhirnya, siapapun yang akan memimpin bangsa,ia harus dapat menaungi sekaligus melindungi semua golongan,kepentingan dan kekuatan etnik yang ada, juga semua agama.Selain itu pula, ia harus mampu membawa bangsa keluar dari krisis ekonomi dan mampu meningkatkan daya saing bangsa serta rakyat bisa hidup lebih sejahtra.Biarlah rakyat yang menentukannya,kita tunggu saja nanti..!!